Sabtu, 13 Februari 2021

Kisah PPT dimasa pandemi


Agar penyampaian materi di kelas lebih menarik, biasanya guru memanfaatkan salah satu produk Ms.Office yaitu Ms.Power Point atau disingkat PPT. Dengan PPT, guru bisa menyajikan materi yang disertai gambar dan video yang dikemas apik dengan berbagai efek. Tujuannya untuk menarik perhatian siswa, dan tentu saja hal itu berhasil saat pembelajaran tatap muka.

Akan tetapi dimasa pandemi seperti saat ini, dimana pembelajaram dilakukan secara daring mengharuskan para guru untuk mengirim materi pembelajaran ke siswa. Yang nantinya siswa akan mengakses materi tersebut lewat HP dan hanya sebagian saja yang menggunakan laptop.

Jika materi yang diberikan guru adalah file PPT, maka siswa yang mengakses materi tersebut dengan HP tidak akan bisa melihat  animasi yang ada didalam PPT tersebut. Karena semua animasi pada PPT jika dibuka di HP akan hilang, dan yang terlihat hanya berupa tulisan dan gambar saja. 

Tanpa adanya efek animasi di dalam sebuah PPT maka akan mengurangi daya tarik dari PPT tersebut. Dan jika siswa terus menerus diberikan materi dalam bentuk file PPT, dikhawatirkan akan timbul rasa jenuh.

Lalu adakah solusi untuk mengatasinya?
Menurut pengalaman saya, solusinya adalah dengan mengubah PPT menjadi sebuah video. Karena jika dalam bentuk video, maka semua animasi didalam PPT tersebut akan tetap muncul saat kita membukanya di laptop ataupun diHP. Dan materi kita akan lebih bervariasi modelnya, sehingga diharapkan siswa akan antusias mempelajari materi yang kita berikan.

Berikut saya lampirkan salah satu contoh file PPT yang telah saya ubah menjadi file video. Silahkan klik link berikut untuk menyaksikan videonya https://youtu.be/FhaVmqjs2Js 
Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
Noni Febrina, S.Pd


Senin, 08 Februari 2021

Mengulik perbedaan AN dan UN

Sebenarnya sudah lama saya dengar kabar bahwa pemerintah akan mengadakan Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti UN yang telah dihapuskan. Saat pertama kali dengar kabar itu, saya beranggapan bahwa AN itu akan sama dengan UN, karena saat itu saya berfikir tujuan AN untuk menentukan kelulusan siswa.

Ternyata apa yang selama ini saya fikirkan tentang AN adalah salah besar. Setelah saya mengikuti bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), akhirnya saya mendapatkan jawaban tentang apa AN itu sebenarnya.

Jadi ternyata AN itu jauh berbeda dengan UN bahkan tidak bisa dikatakan sebagai pengganti UN. Dari segi tujuan, tipe soal, bahkan untuk pesertanya pun berbeda. Saya hanya uraikan 3 pokok saja yang saya rasa sangat kontras perbedaannya.

1. TUJUAN

Kalau UN bertujuan untuk melihat kemampuan akademik setiap siswa yang ditampilkan dalam bentuk nilai per mata pelajaran dan juga sebagai penentu kelulusan siswa per INDIVIDU. Berbeda dengan AN yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran, dan untuk kelulusan siswa dilakukan dengan ujian sekolah. Jadi tetap sekolah yang mengadakan ujiannya.

2. TIPE SOAL 

Tipe soal di UN adalah pilihan berganda, tetapi kalau AN tipe penilaiannya lebih beragam yaitu ada survey karakter, survey lingkungan belajar dan AKM yang terdiri dari pilihan berganda, menjodohkan, isian singkat dan uraian. Oleh karena itu setiap guru dituntut untuk lebih kreatif saat membuat soal latihan, agar siswa bisa terbiasa dengan tipe-tipe soal pada AKM nantinya.

3. PESERTA

Nah poin ketiga inilah yang menurut saya paling menarik. Kalau UN kita semua tahu pasti pesertanya adalah SELURUH siswa tingkat akhir yaitu kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA. Itulah alasannya UN disebut sebagai penentu kelulusan.

Tetapi hal itu berbeda dengan AN. Peserta yang akan mengikuti AN adalah siswa yang berada di tingkat tengah pada setiap jenjang yaitu siswa kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Bahkan guru pun akan menjadi perserta AN. Jumlah pesertanya pun tidak banyak karena hanya diambil sebagian saja dengan metode acak. 

Salah satu metode penilaian di AN adalah survey lingkungan belajar. Hal ini dimaksudkan agar keluhan peserta didik tentang kondisi lingkungan sekolahnya bisa tersampaikan langsung ke pemerintah. Sehingga pemerintah dapat melakukan tindakan tepat sasaran guna meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

Dan yang menjadi pertanyaan adalah kenapa pemerintah memilih siswa kelas tengah sebagai peserta AN. Alasan pemerintah cukup masuk akal, karena agar siswa-siswa tersebut dapat menikmati hasil perbaikan dari pembelajaran di sekolahnya.  Bisa jadi pemerintah ingin menghilangkan selogan khas para alumni yaitu "setelah aku lulus, sekolah ku jadi lebih bagus" menjadi "sekolahku bagus karena aku".

Jadi, itulah 3 poin pembeda AN dan UN yang saya rangkum dari materi bimtek AKM pada situs Guru Belajar yang diadakan oleh Kemdikbud. Sebenarnya masih ada lagi poin-poin lainnya. Untuk itu turut saya lampirkan tabel perbedaan AN dan UN. Semoga bermanfaat.